Update

8/recent/ticker-posts

Sebuah Jembatan Kayu Peninggalan Belanda di Kota Mamasa



MAMASA - BNRI NEWS 

Di kota Mamasa Provinsi Sulawesi Barat, masih ada sebuah Jembatan Kayu yang menjadi peninggalan Belanda. Beberapa orang yang ditemui Pers Bhayangkara  Negara RI Biro Mamasa, kebanyakan mereka sudah tidak lagi mengetahui sejarahnya, bahwa jembatan tersebut dibangun pada tahun berapa?

Jembatan tersebut dari dulu katanya memang diberi nama Jembatan Tedong-  tedong, jembatan ini menghubungkan Kota Mamasa dengan Desa Buntubuda , Desa Tondok  Bakaru, Desa Loko dan Desa Taupe. 

Diperkirakan jembatan tersebut sudah berusia 100 tahun lebih, sudah 3 kali direhabilitasi selama terbentuknya Kabupaten Mamasa. Bahkan, 2 tahun yang lalu sudah direhab kembali. Namun Pemda setempat tetap mempertahankan lantainya dari kayu, supaya kita selalu mengenang masa lalu yaitu Tempo Doloe.

Jembatan Kayu yang menghubungkan 4 Desa tersebut berada di pinggiran Kota Mamasa, atau tepatnya keempat Desa tersebut terletak di kaki gunung Mambuliling, memiliki pesona keindahan alam yang menunjang program pariwisata. 

Sekarang di Desa Tondok Bakaru sudah berjalan pariwisata yang menampilkan sekitar 400 Jenis anggrek lokal Mamasa, hiasan ukiran Mamasa, dan kopi asli arima Mamasa. 

Desa Loko yang terkenal dengan gunung Mambulilling yang selalu dikunjungi oleh para pendaki gunung dari berbagai daerah, terdapat air terjun yang indah. Sementara Desa Taupe juga ada objek air terjun yang sudah mulai dikunjungi banyak orang. Warga disana banyak yang menjadi pengukir hiasan, dan yang paling menarik masih banyak rumah orang tua dahulu. 

Disana juga ada tanaman Lauw, yang buahnya diambil sebagai tempat minuman tuak yang ada kesamaannya seperti di tanah Cina atau Hongkong. Sementara di daerah lain tidak ada tumbuh tanaman seperti itu, hanya di Toraja dan di Mamasa yang menjadi kekhasannya. Untuk Desa Buntubuda, panorama keindahan alamnya sangat bagus.  


Lauw


Maka jembatan kayu Tedong-Tedong itu sangat menunjang arus tansportasi di Kota Mamasa, dengan terhubung ke 4 Desa tersebut, sehingga nilai sejarahnya perlu dipertahankan.


Rumah Adat


(Penulis : Sultan)

Editor : Echo Sierra

Posting Komentar

0 Komentar